Keil dan Delitzsch melihat relasi suami-isteri yang masih di kesucian adalah “terbuka” dan “tidak meleng. ” Oleh karena itu ide “telanjang” disini tak merupakan visi fisikal menyendirikan spiritual (kerohanian kita) dimana satu hubungan batin renggangan kita beserta suami/ orang belakang sama secara hubungan kalian dengan Allah yang siap berjalan beserta baik homo sama beda. Sehingga itu perupakan aspek yang luar biasa serius dibanding arti pengudusan keluarga. Akan tetapi ketika dosa masuk, maka spiritualitas menjadi rusak serta manusia hanya melihat “ketelanjangan”/sifat seksualitas serta bukan “keterbukaan” ataupun hati spiritual. Oleh sebab itu hubungan suami-istri hanya dilihat secara sensual dan bukannya spiritualm nun akhirnya menyebabkan banyak masalah karena sangat bersifat kedagingan.
Gereja untuk persekutuan umat beriman Kristiani memberi dukungan penuh terhadap setiap rombongan Kristiani pada tugas perutusannya mendidik anak-anak. Konsili Vatikan II menekankan pentingnya pendidikan iman bani dalam keluarga, sebagaimana ditegaskan kembali Paus Yohanes Paulus II pada surat Apostoliknya Familiaris Consortio, bahwa wujud utama petunjuk kristen adalah pemahaman akan halnya misteri kesyahduan dan semakin meningkatnya keyakinan iman. Di samping tersebut pendidikan kristen yang berakar dalam keluarga juga menghendaki agar peserta didik (baca: anak-anak) mencari ilmu menyembah Sang pencipta Bapa di roh dan kebenaran. Hal itu bisa terjadi melalui doa-doa pada keluarga dengan berpuncak pada perayaan liturgi gereja.
Maka tak heran banyak cukup umur lebih betah di luar rumah dengan temannya dari pada tinggal di rumah. Bahkan tatkala ada sengketa, lebih senang mencari selesai orang beda dari di orang uzur atau saudara sendiri. Oleh karena itu masing-masing bagian keluarga masuk akal demi mendirikan keutuhan keluarganya sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing. Keluarga merupakan sekolah pertama. Pengetahuan & keterampilan pokok pertama-tama tersua dari titisan, khususnya ke-2 orang renta, dan pula anggota keluarga dengan tinggal serumah. Masing-masing warga keluarga memiliki peran dengan tak tergantikan dalam penyusunan dan perkembangan diri. Ketika berhadapan dengan adik, engkau belajar melindungi, belajar menjaga dan mencari ilmu membantu.
Hidup manusia itu selalu substansi yang baik! Mengapa? Karena hidup tersebut berbeda jauh dengan hidup mahluk kehidupan lainnya, meskipun ia disusun dari debu tanah. Kej. 1: 26-27) Hidup manusia menampilkan Allah di dunia, menandakan kehadiran-Nya dan merupakan kemuliaan-Nya. Wong dikaruniai status yang sungguh luhur (EV 34). Hidup manusia berawal dari Sang pencipta. Oleh olehkarena itu itu, wong tidak siap memperlakukannya dengan sesuka hatinya. Hidup itu memiliki tumpuan pada keilahian, yaitu bersatu dengan Allah dalam muncul kekal. Kehidupan itu besar suci serta keramat sebab Allah menciptakan manusia dari segi citra-Nya.